Pernah merasa kesal ketika diminta oleh orang lain melakukan sesuatu? Awam terjadi di dunia kerja kita menerima perintah dari seseorang yang secara struktural berada di atas kita. Barangkali pernah satu waktu, permintaan orang tersebut terasa berlebihan dan terasa “menjajah”. “Apa sih ini orang..?”, atau “Sialan ini orang main perintah seenaknya..?”, atau “Kerjain sendiri dong, biar tau gimana rasanya..!!”, dan pikiran-pikiran sejenis mungkin timbul ketika berada dalam situasi seperti di atas. Ini pernah beberapa kali terjadi pada saya.
Di awal masa kerja saya di tempat saya bekerja sekarang, saya, seorang engineer muda miskin pengalaman yang merasa sudah bisa dengan modal ilmu universitasnya, rasanya banyak bikin susah mentor saya. Dulu, saya tak jarang memasang wajah “berkerut” setiap kali diminta melakukan hal-hal yang bersifat remeh/kecil. Misalnya, ketika diminta untuk melakukan tes fungsionalitas suatu alat, merapikan dokumen proyek, dan sebagainya. Dulu, pekerjaan semacam itu saya anggap sebagai pekerjaan yang mengada-ada, pekerjaan tidak perlu yang bertujuan membuat saya punya sesuatu untuk dikerjakan saja. Padahal, it’s part of the big job. Seringkali akhirnya, mentor saya itu melakukan sendiri pekerjaan-pekerjaan remeh itu. Merasa tidak enak juga sebenarnya. Menjelang akhir proyek baru saya sadari bahwa pekerjaan-pekerjaan yang terlihat remeh itu punya impak juga terhadap kelancaran proyek secara keseluruhan. Dalam tes fungsionalitas alat, saya menemukan beberapa failure/bug yang seandainya tidak ditemukan dan diperbaiki akan membuat defek pada produk yang sedang kami kembangkan saat itu. Dengan dokumen yang tersusun rapi, sangat mudah untuk melakukan bug tracking dan mengenali perubahan-perubahan kecil pada perangkat yang dikembangkan.
Pernah membuat subordinat Anda kesal ketika Anda memintanya untuk melakukan sesuatu? Pernah melihat wajah dan gerak-gerik berontak dan tidak puas muncul selesai Anda menyampaikan permintaan? Terlebih lagi apabila subordinat itu lebih tua dari segi usia dan lebih matang dari pengalaman kerja. “Apaan sih anak kecil ini..?”, “Belagu..”, mungkin terlintas di pikiran mereka ketika itu. Ini juga pernah beberapa kali terjadi pada saya juga.
Setahun ini saya terlibat dalam proyek pengembangan suatu perangkat broadcasting. Awal tahun kemarin seorang group leader dalam proyek ini ditransfer ke proyek lain. Saya lalu ditempatkan untuk menggantikan si group leader tadi. Subordinat saya ada 3 orang, dari perusahaan mitra. Satu orang kira-kira sebaya dengan saya. Dua orang lagi, sudah cukup berumur dan tampak cukup berpengalaman. Awalnya kikuk juga, harus memberikan instruksi pada orang yang lebih tua dan berpengalaman. Dan yang lebih membuat tidak nyaman, seringkali saya dapati ketidaksenangan dan ketidakpuasan di wajah mereka seusai saya melakukan briefing. Sempat membuat saya merasa tidak berhasil menjadi group leader yang baik. Tapi untunglah, belakangan ini sudah mulai berjalan baik. Target-target grup satu per satu kami capai bersama.
Khusus buat para lelaki. Pernah dibuat bingung oleh wanita? Pernah percakapan yang sebelumnya berlangsung baik-baik saja tiba-tiba berubah mendadak menjadi ajang ngambek, menjadi ajang marah-marahan, atau menjadi dingin? (Dan para lelaki pun mengangguk-angguk, hehehe..). Dan ini pun juga pernah beberapa kali terjadi pada saya.
Beberapa hari yang lalu, saya chatting dengan seorang teman wanita. Cantik? O tentu saja.. Teman wanita seorang Eric cakep-cakep lo..
(tidak penting). Awalnya percakapan asik-asik saja. Lalu saya mengirimkan invitasi suatu aplikasi di Facebook kepadanya dan menanyakan apakah dia menerimanya. “Gak ada.., ” jawabnya. Yang lalu membuat saya heran karena merasa telah mengirimkan invitasi itu. “Masa sih..?” tanya saya untuk memastikan. Dia menidakkan untuk yang kedua kalinya, lalu setelah itu memilih untuk appear offline terhadap saya. Maka bengonglah saya.. Apakah saya membuatnya marah? Belum saya tanyakan kepada teman saya itu ada apa sebenarnya kemarin. Biarlah dia reda dulu apabila memang marah, karena saya tidak melihat hal yang patut dimarahkan. Mungkin saja tidak marah. Probably something has just bothered her or was bothering her that time. Ah, memang hati makhluk bernama wanita siapa yang mengerti. Bagi saya, mereka itu misteri alam terbesar kedua setelah bilangan imajiner. Tak sepenuhnya terpahami tapi tetap saja menarik di hati
.
Kembali ke topik utama tulisan ini. Kemarin saya mengikuti training mengenai diversity di kantor. Salah satu topik bahasan dalam training tersebut adalah mengenai masalah komunikasi dalam kehidupan bekerja. Sang instruktur bertanya, “Bagaimana Anda menilai apakah seseorang pembicara yang baik? Apakah dari pembicaraannya?” Si intsruktur menjawab sendiri, “Anda nilai dari pendengarnya..”. Si instruktur lalu melanjutkan penjelasannya, “Tanya para pendengarnya mengenai topik pembicaraan si pembicara. Apabila mereka bisa mengerti dengan baik, maka si pembicara tadi adalah seorang pembicara yang baik.”
Masih penjelasan lanjut dari sang instruktur, “Komunikasi yang baik akan terjadi bila si pembicara mau memahami posisi/keadaan pendengar. Dengan memahami keadaan pendengar, pembicara akan dapat menyusun penyampaiannya sehingga hal yang hendak disampaikan dapat diterima/dipahami dengan baik dari sudut pandang pendengar. Rasakan posisi sebagai pendengar sebelum Anda menjadi seorang pembicara!”
Penjelasan sang instruktur jadi mengingatkan saya akan beberapa konsep lain yang seide. Pemimpin yang baik adalah seorang yang terbeban untuk melayani, bukan seorang yang menuntut untuk dilayani. Kekasih yang baik adalah yang mau memahami pasangannya dan tidak selalu menuntut untuk dipahami.
Yah, rasanya memang begitu. Banyak masalah komunikasi yang terjadi karena undelivered message. Seringkali pembicara merasa telah menyampaikan maksudnya dengan cukup, ternyata pendengar tidak/belum bisa memahami dengan baik. Yang terjadi pada saya di contoh kejadian di atas misalnya. Mentor saya merasa telah menyampaikan hal yang patut disampaikannya dengan baik. Instruksi mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana harus dilakukan telah disampaikannya dengan jelas. Namun, saya di pihak pendengar ternyata mengharapkan satu penjelasan lagi. Kenapa harus dikerjakan pekerjaan yang terlihat remeh itu? Bila saja mentor saya menjelaskan juga mengenai hal ini, rasanya saya akan mengerjakan dengan lebih bersemangat dan senang hati.
Perlu diingat pula, komunikasi terjadi tidak hanya secara verbal melalui kata-kata yang terucap. Bahkan sering kita dengar bahwa 90% dari komunikasi itu sebenarnya terjadi secara nonverbal, melalui bahasa tubuh. Inilah yang menolong saya pada kasus kedua yang saya ceritakan di atas. Anggota grup saya tiga-tiganya orang Jepang yang tidak (mau/bisa?) berbahasa Inggris. Apa boleh buat, maka saya harus jungkir balik menyampaikan pemikiran saya dalam bahasa Jepang kepada mereka. Tentu saja, secara verbal, komunikasi tidak berlangsung secara sempurna. Dalam interaksi yang terjadi di antara kami selama ini, dari bahasa tubuh sayalah (gerak-gerik, mimik wajah) mereka rasanya mengerti bahwa bila ada masalah dalam grup kami yang akan pertama kali “ditekan” adalah saya. Dan dari bahasa tubuh merekalah saya memahami bahwa mereka tidak menginginkan beban pekerjaan yang terlalu berat. Maka tugas sayalah untuk memilah-milah hal yang tidak penting dan tidak perlu untuk dilakukan. Dan melalui saling memahami posisi lawan bicara itulah, kerjasama pelan-pelan terbina dengan baik.
Dari pengalaman saya selama ini, satu kesalahan yang sering dilakukan seseorang dalam berkomunikasi, yaitu melupakan bahwa setiap orang itu adalah individu yang unik. Tidak ada metoda berkomunikasi yang efektif terhadap semua orang. Saya sudah beberapa kali mengalami surprise, menerima respon yang berbeda-beda dari beberapa orang atas sesuatu yang saya sampaikan. Padahal secara general, karakter orang-orang tersebut sepertinya sama. Yah, tidak ada dua orang yang benar-benar serupa memang. Saya sendiri akan merasa dilecehkan bila dipersama-samakan dengan orang lain. Kenapa? Karena itu berarti saya tidak dihargai sebagai seorang pribadi. Jadi, tidak ada metoda berkomunikasi yang sama efektif terhadap semua orang.
Mungkin pernah terdengar, siapa yang menguasai energi menguasai dunia (jadi teringat perang-perang antarnegara bermotif rebutan minyak). Dalam tingkatan paling dasar, saya setuju dengan ungkapan tadi. Everything is energy, secara hurufiah. Tapi, naik setingkat ke atas ke tingkat peradaban manusia, bagi saya, yang menguasai komunikasilah yang menguasai dunia. Tapi tidak usah dibahas dulu di tulisan ini mengenai hal tersebut, karena tulisan ini mulai melebar, hehehe…
Komunikasi memang sesuatu yang pelik tapi menarik. Dunia semakin digital dengan aturan dan struktur yang semakin teratur. Tapi komunikasi antarorang tetaplah sesuatu yang analog karena melibatkan emosi yang sangat dinamis.
Inilah yang membuat saya bangga menyebut diri alumnus Teknik Telekomunikasi. Kenapa? Karena saya belajar mengenai penyediaan infrastruktur dan teknologi yang membantu orang untuk bisa berkomunikasi dengan baik, hehehe.. (maksa… hidup telkom!). Maka saya pun menjadi sangat bersemangat untuk meneruskan pendidikan di bidang telekomunikasi ini. I love this domain
(dan ke Eropa telah kuarahkan pandangku..).
Living is easy with eyes closed
Misunderstanding all you see..
Just wanna say hi…
Hai hai..
“Bagi saya, mereka itu misteri alam terbesar kedua setelah bilangan imajiner.”
i like that phrase…
woi…
add gw di fesbuk lu donk…
hey…
Cew tu g ribet kok..
Klo dia blg g mw,itu artina dia mw
Klo dia blg mw itu artinya g mw…
Tapi…
Klo dipikir2 knp g lgsg2 aja ya..??
Nikmatin ajalah…
Biar ada saingan tuch si angka imajiner..
wakakakaka…
wuih, panjang
(tp tetep gw baca ampe akhir koq)
面白い、続けて
yak hidup telkom rik..:D
tampaknya ada yang mo s2 lagi nih..
Ric..
Kamu kan pinter..
Minta sejuta argumen dunk ttg keadilan..
Hr ne,mia lg bingung bgt ma kata yg satu ne..
(duh yg lg bingung…)
wak..wak..wakk..
@Mia: Saya pintar? Hahaha.. bisa dikeroyok warga kampung gajah nanti saya..
Lagi kenapa Mia kok bingung..? Ceritanya ke e-mail saja yak. Repot nanti kalo harus baca di sini.
Klo g pinter,g bs mpe jepang dunk…
ya g..?
okey..check ur mail…
wah.. abang ganteng kita ini…
makin pintar aja berkomunikasi…
yeah bang ucok
komunikasi bukan sekedar bertukar kalimat
-salam telekomunikasi
Wah… ternyata aQ gk salah menilaimu selama ini rick…
Kamu seorang melankolic-plegmatis dan itu terbukti dari tulisan2 km… Perfect!
Yah… terkadang orang2 seperti kita, yg baru lulus dari universitas, dgn idealismenya, terlalu gengsi untuk mengerjakan hal2 kecil yg kita anggap tidak terlalu penting.
Tapi ingatkah kamu, Tuhan Yesus dgn segala kebesaranNya, kekuasaanNya, kemasyuranNya, meninggalkan tahtahNya hanya untuk melayani orang2 bdosa seperti kita???
Kita siapa??? yg harus gengsi untuk melakukan pekerjaan2 kecil di tempat kerja kita???
aQ juga pernah merasakannya rick… Bahkan dengan posisi Q sebagai Head Nurse, aQ disuruh m’fotocopy…
Tapi aQ bersyukur krn perasaan itu tidak memperbudak aQ…
Q harap kamu jg seperti itu…
Komunikasi memang penting, tapi “Hati untuk Melayani” itu lebih penting…
@Ely: Melankolic-plegmatis? Makanan jenis apa lagi itu..? Hehehe..
Memangnya selama ini penilaianmu seperti apa El?
Wah..wah.., ada yang mencoba “membaca” saya rupanya.
Yah, selamat membaca deh..
Peringatan pemerintah: “Membaca seorang Eric adalah hal yang tidak terlalu penting. Lakukanlah hanya bila waktu luang Anda berlebihan.. ;p”
he..he..he..
Bisa juga kamu bcanda ya??? Aq kira km hanya tau belajar belajar dan belajar
aQ kira selama ini kamu seorang Koleris-Melankolis…
Wah… aQ kira udah semua buku kamu baca rick, ternyata tentang personality belum ya???
Kalo aq jelasin disini, ntar kamu pusing mbacanya tapi yang jelas setelah aq tahu tentang personality yg ada pada manusia, itu sangat membantu aq untuk mengenal kelebihan dan kekurangan Q, dan bgmn mhadapi orang2 di luar sana… Rugi deh kalo gk mbacanya…
Lho, koq kyk iklan gitu ya??? he..he..he..
“Membaca seorang eric?” Siapa juga yg mau? aQ cuma baca tulisan2 km kaleeee… siapa tau bisa dijadiin referensi, bolehkan???
Eh btw, kamu taukan ini ely yg mana??? Ntar dah ngomong panjang lebar, ternyata salah alamat lagi…
@Ely: Taulah.. Ely yang itu kan..
? Mau dijadikan referensi? Ada biaya royalti kalo begitu.
Ini nih persepsi yang sering salah.. Humor dan belajar itu bukan sesuatu yang bertentangan lo..
Horas…………………..