Tadi pagi di kebaktian gereja seorang teman wanita memberikan sebuah kesaksian tentang penggalan pengalaman hidupnya. Suatu cerita yang “memukul” kepala saya..
Bulan April nanti kuliah D2 saya di Jepang akan selesai. Saya sempat bingung untuk melakukan apa selanjutnya. Apakah sebaiknya pulang saja ke Indonesia? Ingin sebenarnya melanjutkan kuliah ke jenjang S1, tapi akan ada masalah biaya.
Saya putuskan untuk mencoba mengikuti ujian masuk ke suatu perguruan tinggi yang saya cita-citakan. Namun di masa-masa persiapan ujian kemarin, timbul masalah-masalah. Masalah pribadi, masalah di tempat kerja part-time, dan lain sebagainya. Akhirnya, saya pun gagal masuk ke perguruan tinggi tersebut.
Saya pun sedih, dan lalu khawatir mengenai apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Di tengah kekhawatiran itu saya mencoba lagi. Tidak yakin lagi sebenarnya. Dan ternyata, luar biasa, saya bisa lulus ke sebuah perguruan tinggi yang lebih baik daripada perguruan tinggi yang saya coba sebelumnya. Ajaib sekali..
Namun masalah tidak berhenti di situ. Ternyata perguruan tinggi yang ini, biaya kuliahnya mahal sekali. Saya sempat tidak tahu harus bagaimana untuk bisa menutupi biaya, karena sebagai mahasiswa yang hidup dari beasiswa dan hanya sesekali melakukan kerja part-time, saya tidak memiliki tabungan sebanyak itu.
Saya lalu menjadi semakin khawatir. Saya lalu mengusahakan banyak hal agar bisa memperoleh biaya. Saya mengajukan permohonan agar biaya kuliah bisa diangsur. Bisa. Pembayaran dicicil dalam 5 kali pembayaran. Namun tetap saja jumlahnya besar. Bahkan untuk satu kali cicilan, jumlahnya lebih besar daripada beasiswa yang saat ini saya peroleh.
Saya pun sangat bingung. Liburan musim dingin kemarin, dalam kekhawatiran yang dalam, saya putuskan untuk mencari pekerjaan part-time sebanyak mungkin, sebisa yang dapat saya kerjakan. Biarlah tidak ada liburan. Maka jadilah liburan musim dingin saya kemarin diisi dengan bekerja. Bahkan satu hari kadang saya sampai masuk 2 shift.
Dan akhirnya saya dapati, tidak ada guna kekhawatiran saya yang berlebihan sebelumnya itu.. Ternyata saya diberi lebih dari yang saya harapkan. Biaya mulai terkumpul dan saya bisa melunasi cicilan pertama biaya kuliah..
Di tempat tinggal saya, saya berbagi tempat tinggal dengan dua orang mahasiswa asing lain. Mungkin karena kemampuan bahasa Inggris saya yang kurang baik, selama ini saya berkomunikasi dengan mereka dengan menggunakan bahasa Jepang saja. Entah karena kendala bahasa ini atau karena apa, selama ini hubungan saya dengan mereka sangat biasa-biasa saja. Satu tempat tinggal tetapi tidak ada hubungan yang dekat dan dalam. Cuma sebatas saling kenal saja.
Di tengah-tengah saya mempunyai masalah dan kekhawatiran kemarin, tak disangka, saya mendapat kesempatan untuk menjakin hubungan yang lebih dekat dengan salah seorang dari mereka. Pelab-pelan komunikasi yang lebih personal mulai terbuka. Dan saya mendapati ternyata teman tempat tinggal saya itu mempunyai masalah mengenai hubungan dengan manusia. Dia tidak bisa mempercayai dan menghargai manusia lain. Dia lebih respek terhadap makhluk hidup lain selain manusia. Dan saya pun terkejut.. Mungkin ini salah satu alasan saya sebelumnya tidak bisa menjalin hubungan yang dekat dengannya, kerena dia tidak mempercayai saya.
Dan saya bahagia, saya telah mendapat kepercayaan darinya untuk mendengarkan hal ini. Saya senang bisa menjadi “teman” yang rasanya selama ini tidak dia peroleh. Di tengah saya mempunyai kekhawatiran dan masalah sendirilah, saya disadarkan bahwa orang lain pun mempunyai masalah yang kadang memerlukan bantuan dan perhatian dari saya..
Sebagai kesimpulan, saya ingin menyampaikan tiga poin:
- Cintailah apa yang telah terjadi dalam hidupmu. Tidak ada gunanya kekhawatiran yang berlebihan. Anda tidak pernah sendiri menjalani hidup, telah ada rencana untuk hidupmu.
- Tetaplah peduli pada sekitarmu, meskipun Anda sedang memiliki masalah dan kekhawatiran. Ada orang-orang yang membutuhkanmu.
- Kamu adalah garam dan terang dunia.
Hai…
Disela2 jam kerjaku,aku sempatkan membaca smua tulisanmu.
Finally…Selesai juga.
Menurutku,diusiamu yg lbh muda 14 hari dari aku(oh my ghost..), kamu udah kaya bgt akan byk hal.
Bersyukurlah…
Membaca kesuksesanmu, membuatku minder cuma jd kacung di perush swasta di Pku, cuma org bias, mentally and financially…
tapi ada pepatah blg
” When one door of happines shuts, other will open if u make yourself see it”
ada jg yg blg
“Cintailah apa yg ylh tjd dlm hdpmu. Tak ada gunanya kekhawatiran yg berlebihan. Anda tdk prnh sendiri menjalani hdp, tlh ada rencana utk hdpmu (Why so egocentric?).
Tetaplah menulis..
Jadi inspirasi utk org lain..
can’t wait for the next story from the Lone Star State…
Jsuz blez…
Halo Mia.. Mia sewaktu SD? Mia “kecil” bukan sih..? Hehehe… Masih ingat sepertinya (mudah-mudahan gak salah ingat).
Masih imut2 seperti dulu? Atau udah jadi amit-amit sekarang?
Wah, udah baca semua ya tulisan di blog ini? Aku butuh waktu 2 tahun untuk bisa menuliskan semuanya, tapi habis dibaca dalam 2 hari saja.. Saya meraza di-zolimi..
Sekarang aku udah balik ke Tokyo Mia, jadi gak bakal ada lagi cerita dari Texas (kecuali saya diharuskan pergi lagi, dan mudah-mudahan tidak lagi..
).
Glad to hear you like to read the writings. Sering-sering mampir yak…
Haosiao…
Tega lu ya ngatain mia amit2…
btw,akhir taon kmrn mamamu ketemu mamahku di pasar..
trus blg gini “mia apa kbr dak? (mrka kan saling manggil eda), ntar klo dia merit jgn lupa undang aku ya..”
Plis de…
Ada topik lain g yg lbh asik utk dibahas kaum ibuk slain yg atu ini?
Mpe parno klo ada pembahasan mengenai mslh ini..
C u…
Jsuz blez..
@Mia: Sudah tak respon ke e-mail mu. Keep in touch..
lg apa…?
Bete bgt ne hrs kmbli krja..
Liburan 3 hari di duri msh kurang rasanya..
Soale bs bangun siang..
wak..wak..wakk