Seorang teman, Amir, pernah berkomentar bahwa Amerika tidak bisa dinikmati dengan leluasa tanpa mengendarai mobil. Dan rasanya itu benar.
Sebelum berangkat, kurencanakan untuk menjelajahi Dallas, setidaknya daerah di sekitar hotel tempat menginap. Karena tidak akan bisa mengemudikan mobil di sini karena tidak memiliki surat izin mengemudi yang valid (walaupun sudah pernah disarankan untuk mengurus SIM Internasional, tapi karena tidak ada urgensinya, kuacuhkan), maka kulakukan riset kecil tentang transportasi publik di Dallas. Sedikit ada harapan ketika hasil googling mengarahkanku ke informasi mengenai Dallas Area Rapid Transit (DART), sistem transportasi publik di Dallas. Menjanjikan kemungkinan penjelajahan kecil di Dallas nanti. Tapi setelah tiba di sini, DART ternyata tidak sebersahabat yang kubayangkan. Selama dua minggu, di perjalanan menuju kantor, makan siang, dan pulang dari kantor, kucari-cari petunjuk yang mengindikasikan adanya stasiun transportasi publik DART. Sejauh ini, tidak kutemukan.
Dan, bukan hanya masalah transportasi saja yang membuat rencana jelajah-menjelajah tidak (belum) bisa terlaksana. Ada dua hal lagi, yaitu sakit perut dan Ike.
Akhir pekan pertama kuhabiskan dengan meringkuk di sofa sambil nyumpah-nyumpah, “American food is a joke!“. Yap, makanan di sini adalah lelucon. Setidaknya bagiku. Kenapa? Ada dua alasan. Yang pertama, dari segi jumlah. Makanan di sini selalu disajikan dengan porsi untuk dua orang (menurutku). Jumlah hidangan yang tersaji selalu berhasil membuatku menggeleng-gelengkan kepala, siapa yang bisa menghabiskan porsi yang demikian. Maka hari-hari pertama di sini, saat makan adalah saat penyiksaan bagiku. Sehabis makan, bukannya perut nyaman terisi yang didapat, tapi perut kepenuhan yang bikin susah bergerak. Alasan kedua, dari aspek bahan makanan. Sebagai “orang ndeso”, bagiku makanan yang serius adalah makanan yang mengandung nasi. Di luar itu, adalah makanan pura-pura. Sialnya, nasi di sini jarang menjadi menu utama. Yang sering jadi menu utama adalah roti atau kentang. Makanan ecek-ecek…
Maka, sepertinya perutku terkejut dengan makanan yang kutelan seminggu pertama. Hasilnya, sakit perut pun menjadi pengisi akhir minggu pertama.
Minggu kedua, aku mulai terbiasa dengan makanan. Maka hari-hari mingu kedua pun dijalani dengan lancar. Terbersit rencana untuk menjelajah di akhir minggu nantinya, walaupun harus dengan jalan kaki saja. Tapi lagi-lagi ada penghalang yang datang. Kali ini si pengganggu cukup besar, yaitu badai Ike. Hari Selasa pagi minggu kedua kemarin itu, Nunokawa-san mengatakan bahwa ada badai baru yang sedang akan menghantam Texas. Badai baru? Ya, karena minggu sebelumnya badai Gustav baru saja menghantam Teluk Mexico dan Texas. Untung saja tidak lewat Dallas. Nah, si badai Ike ini diramalkan akan melewati Dallas pada (sialnya) akhir pekan.
Sesuai ramalan, badai Ike “menyenggol” Dallas pada akhir pekan minggu kedua. Pusat badai sendiri, syukurnya, tidak melalui Dallas. Tapi senggolannya pun cukup membuat Dallas diguyur hujan dengan tiupan angin kencang. Maka akhir pekan kuhabiskan dengan meringkuk di sofa lagi, ditemani tayangan dari National Geographic dan Comedy Central saja (asem…).
Dallas sendiri, dalam dua pekan saja, telah berhasil membuatku rindu akan rumah di Indonesia. Rindu akan kota Duri. Padahal Tokyo saja dalam setahun tidak sukses membuatku rindu akan rumah. Kenapa demikian, I am hit by a nostalgic sentiment here. Lingkungan, tata kota, dan perumahan yang ada di sini mengingatkanku akan kompleks perumahan Chevron yang ada di kota Duri. Ternyata kompleks perumahan Chevron di Duri telah dibangun dengan tata kota yang teramat Amerika. Aku memang tidak tinggal di kompleks perumahan Chevron, karena sebelum aku lahir orang tuaku memutuskan untuk tidak tinggal di kompleks Chevron tapi membangun rumah sendiri. Namun, lokasi rumahku sangat dekat dari komples Chevron. Ditambah lagi, gedung sekolahku (SLTP dan SMU) terletak di tengah kompleks Chevron. Jadi, semasa masih di Duri dulu, banyak waktu yang kuhabiskan “berkeliaran” di kompleks Chevron.
Sekarang, “berkeliaran” di Dallas membuatku teringat akan masa-masa di Duri dulu. Nuansanya mirip. Hanya saja penduduk di sini berbahasa Inggris
.
Akhir minggu ketiga akan datang. Kali ini rencana jelajah-menjelajah harus terlaksana. Mudah-mudahan tidak ada penghalang yang datang. Oh dan ya, aku masih berpendapat, American food is a joke…
kalo porsinya besar malah bisa ngirit dong son,
sekali bayar bisa 2 kali makan…
klo di jepang benri ya,tinggal subway,densha,basu,nyampe deh kemana2,kaya amazing racenya gw di tokyo minggu kemaren
) ceritanya tar deh,blun sempet upload foto2 :p tunggu aja di blog gw yang keren
)
Ngeri fuang!! Texas udah mulai dijajah dan diexplore nih..
mantaplah coi