Sebentar lagi Jepang akan memasuki masa liburan panas, atau yang lebih dikenal dengan nama Obon. Seperti liburan tahun baru (Oshougatsu) dan Golden Week, Obon merupakan satu dari tiga masa liburan panjang yang ada di Jepang. Tahun ini liburan Obon di perusahaan tempat saya bekerja jatuh pada tanggal 11-15 Agustus, satu minggu penuh.
Liburan panjang seperti ini biasanya jadi kesempatan buat orang-orang asing seperti saya untuk bisa liburan ke negara asal masing-masing. Tinggal tambah cuti satu minggu, bisa liburan dua minggu. Lumayan.. Itu yang saya lakukan di liburan Obon tahun kemarin.
Minggu kemarin saya bersama seorang senior engineer, seorang chief specialist, dan seorang senior fellow berkunjung ke research center perusahaan mitra di Kawasaki. Setelah urusan pekerjaan selesai, kami lalu makan siang di salah satu restoran yang ada di Lazona Kawasaki. Ketika ngobrol ngalor ngidul di tengah makan siang, si chief specialist bertanya ke saya, “Ericson san, liburan Obon nanti udah punya rencana mau ngapain?” Yang saya jawab, “Wah, belum direncanakan. Gak bisa bikin rencana soalnya. Schedule-nya begini sih…” Setelah tercenung sejenak, si chief specialist yang jelas mengetahui kondisi proyek lalu tersenyum lalu berkata, “O iya ya, kemungkinan kamu harus ke US di masa Obon yah.” Dan saya pun hanya mesem-mesem saja jadinya.
Kondisi seperti ini berawal dari awal Juli kemarin. Setelah sebelumnya direncanakan untuk berangkat bersama, manajer saya tiba-tiba memutuskan untuk berangkat seorang diri dulu ke US. Namun sebelum berangkat, dia masih sempat memberikan wasiat, “Siap-siap untuk saya panggil datang ke sana ya!”, tanpa menyebutkan kapan. Alhasil jadilah saya dalam status “on call“.
Ngomong-ngomong soal rencana iburan musim panas, salah seorang rekan kerja saya merencanakan akan ke Bali pada liburan musim panas ini. Karena saya orang Indonesia, dia menyangka tentulah saya tahu banyak tentang Bali. Bertanya-tanyalah dia tentang Bali ke saya. Hehehe, belum tau dia, ke Bali saja saya belum pernah. Jadinya saya jawab saja dengan sedikit pengetahuan yang saya miliki tentang Bali. Mungkin saya telah membuat dia terheran-heran, orang Indonesia kok belum pernah ke Bali yang notabene sangat terkenal ke seluruh dunia.
Bagi saya sih, wajar kalau ada (bahkan banyak) orang Indonesia yang belum pernah ke Bali. Indonesia itu luas. Bagi sebagian besar orang Indonesia, perjalanan ke Bali akan membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, dari hasil pengamatan saya sejauh ini, kecenderungan seseorang untuk mengunjungi suatu tempat wisata itu berbanding terbalik dengan rasa kedekatan yang dimiliki seseorang itu dengan tempat wisata yang bersangkutan.
Kedekatan yang saya maksud adalah kedekatan fisik atau psikis atau kedua-duanya sekaligus. Di musim panas tahun lalu saya mencukur rambut di sebuah barber shop yang dijaga seorang obachan/bibi. Di tengah-tengah pencukuran rambut saya, saya dan si bibi berbincang-bincang. Topiknya beragam, sebagian besar berkisar di kehidupan saya sebagai orang asing di Jepang. Percakapan lalu menyinggung tentang tempat-tempat yang sudah pernah saya kunjungi Jepang. Saya pun menyebabkan nama-nama tempat yang sudah saya kunjungi di Jepang, salah satunya Tokyo Tower. Si bibi pun merespon, “Wah, udah ke Tokyo Tower? Saya saja yang seumur ini belum pernah ke sana.” Dengan agak heran saya menjawab, “Lho, kan Tokyo Tower dekat dari sini, cuma sekitar 1 jam naik kereta.” Yang lalu dibalas si bibi, “Ya justru karena itu sih. Karena dekat, rasanya bisa pergi kapan saja, kurang tertantang untuk pergi ke sana jadinya. Ujung-ujungnya, ya sampai sekarang saya belum pernah ke sana.”
Itu kedekatan fisik. Lalu apa maksudnya kedekatan psikis? Kedekatan psikis suatu tujuan wisata terhadap seseorang menunjukkan seberapa eksotis suatu tujuan wisata itu bagi seseorang tersebut. Bila seseorang tersebut merasa dekat, artinya tujuan wisata itu bukanlah sesuatu yang eksotis bagi dirinya. Merupakan sesuatu yang wajar, lumrah, tidak terlalu menarik untuk dikunjungi. “Nggak penting, ” kata mereka
. Sebaliknya, bila seseorang tidak merasa dekat terhadap suatu tujuan wisata, maka tujuan wisata tersebut menjadi merupakan sesuatu yang tidak lumrah, eksotik, menarik untuk dikunjungi. Rasa kedekatan seperti ini rasanya yang dimiliki sebagian orang Indonesia terhadap Bali sehingga banyak orang Indonesia yang belum pernah ke Bali.
Kesimpulan saya ini diperkuat lagi oleh hasil pengamatan saya atas kelakuan seorang kenalan saya, Sven Meier. Sven adalah seorang berkewarganegaraan Belgia, berusia 26 tahun namun sudah mengantongi gelar Ph. D di bidang Teknik Elektro. Sven datang ke Jepang pada bulan Oktober 2007. Dia dikontrak oleh Toshiba sebagai anggota suatu research team selama 1 tahun. Hasil pengamatan saya, si Sven ini adalah pelancong yang berdedikasi tinggi. Hampir setiap minggu dia mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Jepang. Mulai dari yang sangat terkenal sampai tempat-tempat yang bahkan saya pun menganggapnya tidak penting untuk dikunjungi. Belum genap setahun, dia bahkan sudah pernah ke Hokkaido dan Okinawa, dua tempat yang saya rencanakan untuk kunjungi tapi belum terlaksana. Ya, sepertinya si Sven merasa bahwa Jepang adalah sesuatu yang jauh dari kediamannya di Belgia sana. Ditambah lagi, Jepang pastilah sesuatu yang eksotis bagi seorang Eropa seperti dirinya. Jadi waktu setahun harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengeksplorasi Jepang.
Dan ngomong-ngomong kedekatan terhadap suatu tempat wisata, mengingatkan saya akan “dosa” yang rasanya dilakukan oleh banyak mahasiswa ITB. Di zaman saya masih mahasiswa setidaknya. Setiap akhir pekan, Jalan Ganesha dan Jalan Tamansari di samping kampus ITB itu pasti macet. Penuh dengan orang-orang yang mengunjungi Kebun Binatang Bandung yang terletak persis di samping ITB. Nah, kalau ditanya ke mahasiswa ITB, apakah sudah pernah mengunjungi kebun binatang itu, rasanya rata-rata akan menjawab belum pernah. Mungkin sih karena letaknya sangat dekat, sehingga menjadi sesuatu yang tidak menantang untuk dikunjungi bagi mereka. Atau mungkinkah, mereka memiliki kedekatan psikis yang besar dengan penghuni kebun binatang tersebut?
Ya rasanya sudah saatnya saya sudahi tulisan yang sudah mulai tidak jelas arahnya akan ke mana ini. Jadi kalau ada yang menanyakan ke saya, “Libur musim panas udah ada rencana?” Akan saya jawab, “Gak bisa bikin rencana. Simatupang saya, siang malam tunggu panggilan!”
(Badan masih pegal-pegal akibat main futsal tanpa pemanasan hari Minggu kemarin..)
hehe,sama cok, gw jg belun pernah ke bali, bukan apa2,ga ada duit aja
)
tar ketemu ya, jd guide gw
)
weis, gw dah pernah lho ke bonbin :p
hmm,blun ada rencana ya, kayanya gw natsu yasumi mau ke chiba, ama jalan2 ke tokyo, tp abis gw ujian masuk
Whew…..ericson, met liburan…moga2x jadi ke Texas, kan seru bisa beli topi Cowboy & mengunjungi Bush family, hehe…..^^
oiya, nice article, secara g jg blm prnh ke bali
betul cok..
)
) g tau indonesia tuh gede banget..
selama di bandung blm pernah ke bonbin :
mgkn krn sebelahan ama malas..dmn2 bonbin isinya kan jg hewan
oya..dsini juga..tiap kali bilang dr indonesia pasti dsangka dah pernah ke bali…dan org korea tuh ngira bali tuhdr tempat manapun d indonesia pasti deket…pas tau klo dr tempatku jauh kaget mereka
wakakak… jadi pria panggilan ya bang
)
@Nico: Oke deh Osaka boy.. Kontak2 saja ya.
@Okta: Hehehe… Betul juga ya, beli topi cowboy!
@Qonyta: Nah ini salah satu contoh dari banyak anak ITB yang belum pernah ke bonbin
@Denz: Hahaha..
halo con, mantaplah ya jadi cowok panggilan. Wakakakakk
Betul coi, awak juga belum pernah ke kebun binatang didekat kampus kita. Kadang, sepertinya bukan suatu kebanggan bila harus mengunjunginya, lagian, takutnya dikirain ngunjungi saudara-saudara disitu
Juga satu hal lagi, gw blm pernah ke Bali. Kapan ya bisa ke Bali?? :-S
Have a nice holiday ya coi
kalo ke bali,jangan lupa melancong juga ke pulau Lombok,indah dan eksotis broo……
Cok… memang pas yang kau bilang itu…
Justru yang jauh itu… Semisal tempat atau pun daerah wisata…
Mungkin itu yang bikin kita penasaran dan tertantang melakukannya..
aku aja belum kadang masih bingung nyari-nyari alamat atau nama jalan di duri…
Ada balai makam..
Ada balai raja…
Ada babusalam..
Ada Kampung Terendam..
Ada Jurong…
So Semua emang tergantung kita..
regard,
freddy purba