Kemarin saya membaca sebuah artikel tentang hasil survei negara-negara paling inovatif di dunia yang diselenggarakan oleh lembaga Economist Intelligence Unit. Setelah mencari tahu lebih jauh, saya mendapati bahwa survei ini mendefinisikan inovasi sebagai “the application of knowledge in a novel way, primarily for economic benefit“. Yang dijadikan sebagai parameter utama adalah jumlah paten yang dihasilkan suatu negara per satu juta penduduk negara tersebut dalam rentang 4 tahun (2004-2006). Hasil survei menunjukkan Jepang sebagai negara paling inovatif di dunia, diikuti oleh Swiss dan Amerika Serikat di posisi kedua dan ketiga.
Saya sedikit terkejut dengan keberadaan Jepang sebagai pemuncak hasil survei tersebut. Tadinya saya mengharapkan Amerika Serikat atau negara Eropa (seperti Jerman, Perancis, dan lain-lain) yang menjadi pemenang.
Kenapa saya berpikiran demikian? Selama ini saya berpendapat ada 2 hal utama yang mendukung terciptanya inovasi: teknologi dan kreativitas. Penguasaan teknologi didukung oleh keberadaan perguruan tinggi/institusi riset dan korporasi yang bergerak di bidang teknologi. Sementara kreativitas? Sulit untuk dijabarkan memang. Tapi rasanya lingkungan yang diverse, memiliki keberagaman, sangat mendukung terciptanya kreativitas. Interaksi antarkultur yang beragam, pola pikir yang berbeda-beda rasanya akan mendorong timbulnya ide-ide kreatif yang out of the box.
Mari coba bandingkan dua negara saja, Amerika Serikat dan Jepang. Amerika Serikat memiliki keduanya. Amerika Serikat merupakan rumah bagi beberapa perguruan tinggi/intitusi riset terbaik di dunia. Siapa yang tidak kenal MIT, Stanford University, Harvard University, Caltech, Bell Labs, dan lain-lain? Mengenai korporasi yang bergerak di bidang teknologi, rasanya akan terjawab dengan hanya menyebut Silicon Valley yang sering dituduh jadi biang kerok fenomena brain drain.
Amerika juga memiliki lingkungan yang kaya akan keberagaman. Saya belum pernah ke Amerika memang (mudah-mudahan suatu saat bisa ke sana sih
), jadi belum pernah mengalami secara langsung. Tapi dari yang saya lihat di televisi, yang saya baca di media cetak, Amerika adalah negara yang sangat multietnis. Dampaknya, Amerika Serikat merupakan negara yang sangat multikultural. Masyarakat Amerika juga memiliki kebebasan yang luas di bidang agama dan ideologi. Semuanya ini menciptakan lingkungan yang kaya akan keberagaman. Tidak heran rasanya kalau ide-ide kreatif bisa bermunculan dari lingkungan semacam ini.
Jepang punya teknologi. Yang lebih awam di telinga umum mungkin produk-produk dari korporasi-korporasi raksasa seperti Toshiba, Sony, Hitachi, Sharp, Toyota, dan lain sebagainya. Jepang juga memiliki perguruan-perguruan tinggi yang disegani dalam kancah teknologi dunia, seperti University of Tokyo, Tokyo Institute of Technology, Tohoku University, Osaka University, dan lain-lain. Jadi, Jepang memiliki kualifikasi dalam hal penguasaaan teknologi. Akan tetapi, bagaimana dengan diversity?
Sebelum menginjakkan kaki di negara ini, saya tidak memiliki minat khusus terhadap Jepang. Baru 1,5 tahun inilah saya mau tak mau jadi punya perhatian lebih terhadap negara ini (tuntutan adaptasi sih
). Setelah berinteraksi selama 1,5 tahun, bisa saya katakan bahwa Jepang adalah lingkungan yang (masih) monokultural.
Dari sekitar 127 juta penduduk Jepang, hanya 1,22 % yang merupakan orang asing dengan status permanent resident. Penduduk Jepang juga monoetnis. Memang, ada suku minoritas seperti Burakumin, Ainu, dan orang Ryukyuan, namun rasio antara etnis Jepang terhadap etnis minoritas adalah 99.4%.
Salah satu pepatah Jepang yang populer adalah 出る釘は打たれる(deru kugi wa utareru). Artinya, sticking out nail be hammered, paku yang menonjol akan dipalu. Dan dalam bahasa Jepang, kata “berbeda/different” dan kata “salah/wrong” merupakan kata yang sama, 違う(chigau). Sedikit banyak menggambarkan bagaimana orang Jepang tidak terlalu menyukai sesuatu yang “tidak seperti biasanya”.
Orang Jepang menyenangi conformity. They go by the book, they go by the rules. Hal ini juga saya amati pada rekan-rekan kerja saya. Mereka bukan orang-orang yang sangat kreatif. It’s all in the book, walaupun saya sedikitpun tidak meragukan kualitas kerja mereka.
Kenyataan ini membuat saya berpikir dan bertanya-tanya, apakah inovasi itu sesuatu yang bisa dihasilkan secara sistematis? Tidak diperlukankah kreativitas yang spontan? Apakah pemahaman saya selama ini tentang inovasi salah?
Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya saya tidak sepenuhnya salah. Perusahaan tempat saya bekerja, yang memiliki slogan Leading Innovation, sejak tahun 2006 kemarin memulai program yang disebut Global Recruitment. Saya salah seorang produk pertama program ini. Melalui program ini, mereka merekrut orang asing lulusan perguruan tinggi di luar Jepang untuk ditempatkan di Jepang. Mungkin mereka merasa inovasi yang dihasilkan secara sistematis (kalau memang bisa dihasilkan secara demikian) tidak cukup lagi. Maka dilakukanlah diversifikasi, penempatan orang-orang asing dengan latar belakang budaya, pemikiran yang berbeda.
Apakah teori saya tentang inovasi ini benar? Ah, tiba-tiba saya merasa sok tahu. Tapi fenomena ini menunjukkan, (sejauh ini) no single formula for successful innovation.
mantap….lanjut juragan…sepertinya memang gitu cok, kamu ditempatin di situ biar makin kreatif =D
dulu pertama kali denger “deru kugi wa utareru” sempat ngeri juga.. secara fisik udah beda sih soalnya.. he3..
di tempatku pun semua hal yang berbau inovasi bahkan sudah menjadi “ritualitas”. Semua dah ada pattern-nya.. Ini yang agak susah emang..
Padahal kalau aku liat per individu-nya, kadang2 orang jepang tuh idenya nda abis2 sepertinya. Jadi dimana salahnya ya?
Inovasi tiada henti jargon Suzuki
Leading Inovation jargon Toyota…dan bayak lagi..
kekmana cikgu Oecok si boc…??
Mengubah seorang pembajak ide… menjadi pencipta ide2?
Trus kekmana lah menjaga ide itu nggak dibajak sama orang lain,, kaya banyak kasus di Indonesia..
aku cuma bertanya?tapi kan masih cocok dengan topik bacaan diatas… dang songoni tahe
adios no mos..
dak ngertos.
monggo dibaloss!!!
Leading Innovation itu punya Toshiba saudara Jhon.
Pertanyaanmu kok berat2 Jhon? Akhir minggu nih…
Menurut saya itu masalah mentalitas Om Jhon. Mentalitas yang mengangungkan hasil tanpa menghargai proses menuju hasil tersebut. Akhirnya orang udah capek2 mengerjakan sesuatu, karena mau hasilnya saja, hasil kerja orang itu pun dibajak. Tidak ada penghargaan atas jerih payah orang itu.
“Mencontek” merupakan hal yang wajar kurasa. Tapi “mencontek” sampai pada tahap tertentu saja.
Yang penting adalah kreativitas untuk mengolah “contekan” itu menjadi produk baru yang inovatif dibandingkan dengan contekannya.