Kemarin saya baru tiba lagi di Tokyo. Kembali dari liburan selama hampir dua minggu di Indonesia. Sebuah liburan yang ternyata tidak bisa terlalu santai, sibuk, tetapi menyenangkan.
Perjalanan berawal dari bangun pagi pukul 5 pagi dua minggu yang lalu. Karena pesawat akan berangkat dari Narita pada pukul 11.25 , untuk amannya (siapa tau ada sesuatu di jalan), saya berangkat menuju stasiun Tokyo pukul 6.30. Tiba di stasiun Tokyo pukul 7.30, barulah saya tersadar, tidak ada gunanya datang terlalu cepat. Soalnya Narita Express yang tiketnya saya pesan di hari sebelumnya akan berangkat 8.30 (kepala ini udah makin goblok saja di pagi hari).
Setelah menunggu selama 1 jam dan perjalanan menuju Narita selama 1 jam, saya tiba di Narita pukul 9.30 dan langsung menuju ke check in counter JAL. Kenapa memilih JAL dan bukan GIA? Saya tidak akan bahas panjang lebar di sini. Bukan tidak cinta produk dalam negeri. Cuma saya heran kadang, sudah kualitasnya (dalam hal fasilitas tentunya) kalah, harga tidak bersaing pula. Ah, lebih tepatnya, harga lebih jual mahal pula.
Proses check in selesai pukul 10.00. Karena masih ada waktu sekitar 1 jam sebelum boarding ke pesawat, teringat kepada beberapa teman yang telah menitipkan sesuatu dari sini, saya pun menuju ke barisan toko souvenir di bandara. Sekitar 45 menit saya habiskan untuk membeli beberapa benda yang terlihat unik dan menarik. Setelah itu segera saya menuju ke counter imigrasi untuk membereskan hal terakhir sebelum boarding. Dari counter imigrasi saya menaiki shuttle train yang menuju ke terminal keberangkatan. Di dalam kereta, tiba-tiba saya merasa ada yang kurang. Souvenir-souvenir yang tadi saya beli di mana ya? Yap, bungkusan souvenir tidak lagi berada di genggaman saya. Tidak tahu pasti di mana bungkusan itu tertinggal dan mengingat panggilan boarding ke pesawat sudah dimulai beberapa menit yang lalu, maka tidak mungkin saya kembali untuk mencari bungkusan yang tertinggal itu. Nasib-nasib..
Pesawat tiba di Soekarno-Hatta pukul 16.15 WIB. Saya pun memutar mundur jarum jam tangan yang telah menunjuk pukul 18.15. Telepon selular saya disambut oleh jaringan 3G dari 3 Indonesia. Karena sebelumnya telah berjanji untuk bertemu dengan abang saya di Stasiun Gambir, sekeluar dari bandara, saya segera menuju ke Gambir. Sejam menuju Gambir, saya mengamat-amati pemandangan Jakarta sepanjang perjalanan. Jakarta.. Saya tidak (belum) terlalu akrab dengan kota ini sebenarnya. Tapi entah kenapa, selalu, setiap kali saya mampir di kota ini, kota ini selalu terkesan tidak ramah dan tidak bersahabat. Entah kenapa, dengan sendirinya kewaspadaan saya selalu meningkat tajam setiap berada di kota ini. Memang, tak kenal maka tak sayang kata orang. Mungkin karena saya tidak terlalu akrab dengan Jakarta yang menyebabkan munculnya perasaan seperti itu. Maklum, belum pernah tinggal lebih dari beberapa hari di Jakarta. Bila ada kesempatan, ada keinginan untuk mengenal kota ini lebih dekat. Di lain waktu, Jakarta..
Di Gambir saya bertemu dengan abang. Setelah beristirahat dan bercakap-cakap sebentar, kami berangkat menuju daerah Cinere, ke rumah (saat itu) calon mertuanya. O iya, agenda utama liburan saya kali ini adalah menghadiri pernikahan abang saya ini. Kalau bukan karena pernikahan ini, mungkin saya telah cuti lebih awal, sekitar bulan Mei yang lalu. Di perjalanan, mulai dari daerah Kuningan, telepon selular saya handover lagi, kali ini ke jaringan 3G XL. Kami tiba di Cinere sekitar pukul 21.00.
Keesokan harinya kami berangkat menuju Soekarno-Hatta (ah, bolak-balik bandara). Kali ini saya, abang, calon (saat itu) istri dan mertuanya akan menuju ke Pekanbaru. Dari Pekanbaru kami akan menuju Duri. Pernikahan mereka akan dilangsungkan di Duri. Kami tiba di Pekanbaru pukul 16.00. Segera dilanjutkan perjalanan menuju Duri yang akan kira-kira memerlukan waktu sekitar 3 jam. Di perjalanan, telepon selular saya tidak mendapat jaringan. Setting pun saya ubah agar GSM support, barulah mendapat jaringan dari XL lagi. Dalam hati saya berkata, “Selamat datang ke desa”. He..he.. Ya ya, saya ini anak desa kok. Tiba di rumah di Duri pukul 19.30. Keluarga telah menunggu kedatangan kami. Ada suatu perasaan menyenangkan pertama kali tiba di rumah. Setelah sekitar 11 bulan terakhir kali pulang. Feels like home to me. He..he.. ya iyalah, memang rumah sendiri kok.
Karena pernikahan abang saya, keluarga besar mulai berdatangan ke rumah. Bagi yang orang Batak, pasti tau bahwa di keluarga Batak, yang namanya keluarga besar itu benar-benar besar jumlahnya
. Karena orang tua juga sibuk mengurusi persiapan pesta pernikahan, sejak hari pertama kedatangan ke Duri saya pun didaulat menjadi supir. Menjemput keluarga yang berdatangan ke rumah. Mengantarkan beberapa dari mereka ke rumah saudara yang lain dalam rangka distribusi (gak muat di rumah semua). Antar jemput barang-barang keperluan pesta. Dan lain-lain. Sibuk, melelahkan, sekaligus seru. Bertemu lagi dengan orang-orang yang sudah lama tidak pernah bertemu. Bahkan orang-orang yang tidak saya kenali lagi karena terakhir bertemu, saya masih balita. Tambahan lagi, dalam kekerabatan Batak, nama panggilan untuk seseorang itu sangat banyak dan spesifik. Saya sendiri pun tidak terlalu menguasai bidang ini. Oleh karena itu, ketika tiba-tiba bertemu dengan begitu banyak kerabat, saya pun kelabakan, tidak tahu persis harus memanggil mereka apa. Salah panggilan pun sering terjadi. “Horas amangboru!” kataku. “Sian dia ma maramangboru ho tu ahu? Amangtuamu do ahu (Sejak kapan aku jadi amangboru mu? Aku ini amangtua mu!), ” balasan yang kuterima. He..he.. Jadi malu.
Pesta pernikahan dilangsungkan pada tanggal 18 Agustus. Masih memangku jabatan sebagai supir, 18 Agustus di pagi hari saya bertugas menjemput makanan dan bersama-sama dengan rombongan mobil paranak (mempelai laki-laki) berangkat menuju ketempat parboru (mempelai perempuan) untuk acara sibuhabuhai. Selepas itu, seluruh rombongan berangkat menuju gereja untuk acara pemberkatan nikah.

Selepas pemberkatan nikah, dilanjutkan dengan pesta adat. Suatu upacara yang meskipun melelahkan, cukup menarik saya rasa. Suasananya mengingatkan saya akan kegiatan di UKSU semasa kuliah dulu. Sayangnya saya hanya bisa mengikuti sekitar 20% dari acara karena saya harus “kembali ke supir!”. Yap, antar sana, antar sini, jemput sana, jemput sini.

Di tengah-tengah berjalannya upacara adat pernikahan, saya banyak bertemu dengan kerabat. “Bagaimana keadaan di Jepang?”, “Sampai kapan akan di Jepang?”, “Di Jepang ngerjain apa sih?” adalah sebagian dari banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada saya. Namun pertanyaan yang paling sering saya terima adalah, “Kapan menyusul abangmu?” Sedemikian seringnya ditanyakan, membuat saya jadi meluangkan waktu sejenak untuk merenung di hari itu. Yah, dengan berlangsungnya pernikahan abang saya ini, secara alamiah kini semua mata keluarga dan kerabat tertuju pada saya. Kapan menyusul? Terus terang, bukan tidak pernah terpikir mengenai hal ini, tapi saya belum memikirkan untuk seserius itu. Menghadapi gelombang pertanyaan seperti ini, rasanya sudah saatnya saya memikirkan sedikit lebih mengenai hal ini. But hey, I’m still young! Jadi akan saya pikirkan lebih, sedikit saja, he..he.. Harus dipikirkan karena ibu saya memberikan syarat terbatas yang rasis (wekekeke). “Mesti boru batak Amang ya!” Setelah merasakan tinggal di lingkungan budaya yang berbeda, adalah suatu kewajaran memang jika seseorang lebih memilih untuk menjadi keluarga dengan seorang dari latar belakang budaya yang sama. Namun di lain pihak, adalah sesuatu yang sangat wajar pula bahwa seseorang selalu cenderung tertarik pada sebuah foreign beauty (and I have to admit that Japanese girls are lovely
). Ya ya.. Bakal susah, saya cari di mana Mak boru Batak di sini. Holan boru Jepang do na adong Omak! I have to think of it more a bit from now on.
Setelah hari pernikahan, saya meluangkan waktu sedikit untuk mengelilingi kota Duri. Tidak banyak perubahan. Masih seperti yang dulu, panas dan berdebu. Saya sempatkan juga berputar-putar di kompleks perumahan PT CPI Duri. Sebuah little American town di tengah-tengah kampung bernama Duri. Masih seperti yang dulu. Tertata rapi dan teratur.
Duri sendiri sepi. Dalam arti tidak banyak (lagi) teman-teman yang berada di sini. Sebagian besar telah meninggalkan Duri untuk belajar atau bekerja ke daerah lain, khususnya ke Pulau Jawa. Di sini saya hanya “menemukan” seorang Hanna yang telah pulang kampung, menjadi pegawai Chevron. Untuk membangun Duri yang tercinta katanya (hahaha…). Hanna juga mengeluhkan Duri sepi. Sebagai dua orang yang kesepian, maka di malam terakhir saya berada di Duri (sebelum berangkat ke Jakarta), kami sepakat untuk makan malam bersama. Namun sayang sekali, tragedi “ban mobil masuk parit” membuat rencana date tersebut menjadi terkendala. He..he.. sori Na ya. Next time I come to Duri, I’ll make it up to you. Jadi ingat dulu si Hanna pernah berkata, “Kita itu gak jodoh kayaknya Rik!”. Aku rasanya kok jadi percaya juga Na ya, wekeke..
Suatu kenyataan yang sedikit mengguncang sebenarnya. Kenyataan bahwa untuk berjumpa teman-teman yang dulu tidak akan lagi semudah seperti sebelumnya. Bahkan pertemuan yang telah direncanakan pun masih bisa terkendala. Apalagi yang tidak terencana..
Tanggal 23 Agustus, saya berangkat ke Jakarta. Saya akan menuju tempat Leonard yang telah bekerja di Jakarta dan tinggal di Cilandak. Karena hanya akan berada di Jakarta satu hari saja, saya tidak sempat mengunjungi teman-teman yang sangat bertebaran di Jakarta. Keesokan harinya, saya hanya sempat bertemu dengan Riza, Ony, dan Leo. Itupun karena mereka juga tinggal di sekitar Cilandak. Kami melewatkan malam dengan makan-makan dan nonton bareng di (mana lagi kalo sekitar Cilandak) Citos. Makan malam yang diisi perbincangan mengenai kabar teman-teman yang lain yang tidak bisa bertemu. Nonton bareng yang diiringi duduknya seorang Wanda Hamidah di depan barisan bangku kami. Petualangan singkat yang menyenangkan.
Tanggal 25 Agustus adalah jadwal kepulangan saya. Karena pesawat saya akan berangkat di malam hari, di pagi hari saya sempatkan mampir ke Toko Buku Gramedia di PIM. Ingin membawa pulang perbekalan bahan bacaan berbahasa Indonesia. Saya membeli “Kisah Sukses Google” oleh David A. Wise, “City of God” oleh E. L. Doctorow, dan tiga buku pertama dari tetralogi Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor).
Petualangan pun harus diakhiri. Tanggal 26 Agustus saya tiba kembali di Jepang. Kembali ke rutinitas yang ditinggalkan sejenak kemarin. Tiada tempat seperti negara sendiri memang. Indonesia, tunggu kedatanganku lagi (October? Boss, give me that business trip! Christmas? Probably..).

wah.. luar biasa..
interesting journey cok..
btw, kapan aku bisa keluar negeri yahh.. hiks hiks..
-bagaimana bisa, naek pesawat aja blm pernah :p-
Wah, belum selesai ditulis udah ada komentar dari Sigit.
Ah, jangan merendah-rendah gitulah Git.. Soal kompetensi, siapa yang meragukan Git? PS lalu EID, berikutnya?
Kalo Sigit mah gampang keliatannya. Eropa atau US juga bakal gampanglah kalo si Sigit mau.
Gimana persiapan nikahnya Kang? Semoga lancar semua ya. Saya kapan menyusul ya.. Masuk 25 besar setidaknya.
wah, mantap kali perjalanan bang ucok…
kapan2 main ke jakarta lagi kasi kabar laa ya
kalau tentang masuk 25 besar, kita bersaing, bang ucok
hahaha
wah, padahal kalo nge-date-nya sukses, bisa cepet nyusul abangmu ya
waksss,,
gile lu son, ke jakarta ya?? wah kok gak bilang2??
arghhh,,, padahal kan gue mau nitip oleh2,, huahaha
wah,, selamat untuk abang kita itu ya..
sebentar lagi kau lah nyusul ya… wehehhehe..
@Brian: Hehe, banyak saingan ini kalau begitu..
@Jaya: Jangan bikin gosip Jay..
@Effendi: Jangan ikutan ngegosip Fen..
emang susah gt nyari orang batak disini? ;p (piss..)
hanna to iu “hana” ga mitsukarimashitane.. yokatta..
wah, beban kita sama ternyata coi, harus orang batak
emang sih, kata nyokap kalau bisa, tapi secara de facto emang harus batak
Membaca kisahmu.setidaknya aku dah bisa gambarkan kesibukan itu…(wara-wiri) sori cok,aku ga bisa datang waktu itu.
Aku ld dimedan.. Aku dapat kabar dai gaek cowokku abangmu merit.
Any way…
aku juga ada pengalaman masalah panggilan untuk kerabat..
ceritanya mirip kaya yang kau bilang cok…
aku bilang “lae” eh ga taunya bapa uda..(aku pun malu)emang masalah budaya ini agak merepotkan..
Mau Boru batak… ato boru yang lainnya pun.. ga jadi masalah.. yang penting bisa dijadikan istri yang sayang keluarga…
Mulailah cok,pikirkan sekarang.. sikit sikit ntar jadi banyak..
kalo perlu pertolongan kenalin boru batak??
ga usah segan-segan aku siap membantu..
[...] Liburan panjang seperti ini biasanya jadi kesempatan buat orang-orang asing seperti saya untuk bisa liburan ke negara asal masing-masing. Tinggal tambah cuti satu minggu, bisa liburan dua minggu. Lumayan.. Itu yang saya lakukan di liburan Obon tahun kemarin. [...]
haii…
ga sengaja ne,gakubaca fun story lu…
sumpah..
lucu…
aku tmn SD kamu..
mgkn kamu g inget..
kayanya sih bkn mgkn,tp g inget beneran.
he..he..he..
HI lam kenal , aq baca cerita Qmu , bener juga apa yang kamu alami aq juga pernah alami , pas acara keluarga saking banyaknya jadi ga tau manggil apa , namboru di panggil nantulang .
@N3tha: Halo salam kenal juga..
Kalo gk tau manggil apa, ya mbok nanyalah bozzz…
jangan maen nyerotos ajah…
ha..ha..ha..
Kalo aQ gk tau, yah aQ pede aja nanya “aQ panggil apa ya???”
he..he..he… tapi gitupun, aQ pernah salah panggil juga ama nyokap lu… Jadi malu…