“Yang benar aja lu, muri da yo,” kata si Dana waktu aku sampaikan kalimat di atas kira-kira sebulan yang lalu. “Lha, kenapa?” kutanya balik. “Marvin sama Danny udah pernah nyoba ke Tachikawa, 30 menit ngebut,” jawab si Dana. “Mending kamu coba sampai Tachikawa dulu, nanti kalo langsung ke Ome malah malas balik pake sepeda, sepedanya nanti malah ditinggal di Ome, ” sambung Dana. “Ya gak apa-apa Dan, paling sekitar 50-60 menitan ke sana. Lumayan, sepeda santai Sabtu pagi. Sorenya baru balik lagi ke Fuchu,” kataku. “Lagipula udah lama gak naik sepeda, udah 5 tahun apa ya?”
Yap, saya baru saja beli sepeda sebulan yang lalu. Setelah 5 tahun tidak pernah lagi naik sepeda, sekarang bisa naik sepeda lagi. Kalo gak salah, sepeda yang di rumah dulu dikasi ke saudara sewaktu saya SMU kelas 2. Wah, kalo begitu, bukan 5 tahun. Sudah 7 tahun.
Yang mau saya ceritakan di tulisan ini bukanlah tentang sepeda saya itu. Gak penting itu. Tapi, tentang konsumtivisme dan orang-orang Jepang. (Hubungannya apa sama sepedamu itu pak??)
Masa-masa awal tiba di Jepang, saya agak heran juga terhadap situasi yang saya temui di sini. Rasanya tidak ada yang tidak setuju bila dikatakan Jepang adalah salah satu “leading nation” dalam kemajuan ekonomi, sains, dan teknologi. Demikian juga saya. Oleh karena itu, sebelum tiba di Jepang, yang saya harapkan akan saya temui di Jepang adalah kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Memiliki teknologi maju, didukung oleh kemakmuran ekonomi, rasanya semua masyarakat Jepang pasti memiliki/menggunakan produk, fasilitas, infrastruktur mutakhir yang nyaman, aman, efisien.
Dan setibanya saya di sini, ekspektasi saya tidak terlalu melenceng jauh. Di bidang telekomunikasi, kalo di Indonesia infrastruktur 3G baru bisa digunakan oleh masyarakat (di tempat tertentu
) sejak 2006 kemarin, di Jepang 3G sudah launch sejak 2001 yang lalu. Bahkan sudah ada rencana untuk launch teknologi 4G di tahun 2010. Internet? Koneksi broadband sudah jadi barang rumahan. Siaran televisi? Digital broadcasting sudah diluncurkan sejak 2003. Tahun 2011 analog broadcasting akan dipadamkan, seluruh Jepang akan “all digital”.
Di bidang transportasi, sistem yang ada benar-benar efisien. Jaringan kereta dan bus menjangkau seluruh tempat. Jadwal sangat akurat (berangkat pukul 08:43, berarti berangkat pukul 8 lewat 43 menit
). Automasi pembelian dan pengecekan tiket benar-benar nyaman bagi pengguna.
Belum lagi produk-produk elektronik. Sebagai salah satu produsen produk elektronik terbesar di dunia, produk dengan teknologi terbaru dengan mudah ditemui di sini. Benar-benar negara maju.
Namun, ada satu hal (atau tepatnya satu benda) yang di luar ekspektasi saya. Yaitu: SEPEDA. Lha, memangnya ada apa dengan sepeda? Kan bukan barang yang aneh?He..he.. Tidak ada yang aneh dengan sepeda sebenarnya. Yang membuat saya heran adalah jumlah pengguna sepeda yang yang saya temui di sini.
Berdasarkan pengamatan saya sejauh ini, kalau saya ditanya empat besar alat transportasi yang paling banyak digunakan dalam aktivitas sehari-hari di sini, jawaban saya adalah: kereta, kaki (jalan kaki maksudnya), SEPEDA, dan bus. Lha di mana mobil dan sepeda motor? Bukankah produsen mobil dan sepeda motor seperti Toyota, Suzuki, Yamaha, dan Honda berasal dari negara ini?
Rekan kerja di kantor saya juga banyak menggunakan sepeda. Bahkan manajer saya menggunakan sepeda setiap hari untuk ke kantor. Dan saya juga pernah melihat general manager departemen saya mengunakan sepeda di kompleks kantor. Tidak tahu juga apa dia menggunakan sepeda untuk ke kantor atau tidak. Wah, kalau di Indonesia rasanya agak mustahil yak mengharapkan orang-orang selevel manager bahkan general manager menggunakan sepeda ke kantor.
Saya pernah menanyakan pada seorang teman di kantor (yang setiap hari menggunakan sepeda ke kantor), kenapa banyak sekali yang menggunakan sepeda di Jepang. “Kenapa tidak?” jawabnya. “Kalau tujuan gak terlalu jauh, sepeda itu murah, tidak menyusahkan. Selain itu, kan sehat, sambil olahraga”. Lalu saya tanya lagi, kenapa tidak menggunakan sepeda motor atau mobil. “Iranai yo, tidak perlu. Nyusahin malah, nyari tempat parkir, belum lagi macet. “
Apakah karena mereka sanggup untuk membeli mobil atau motor? Jangan lupa, Jepang itu salah satu negara dengan angka pendapatan per kapita tinggi di dunia. Mereka bisa, dan rata-rata memang memiliki mobil kok. Lagipula harga mobil di sini, relatif terhadap biaya hidup, cukup terjangkau. Kalau mau habis-habisan, jerih payah 8 bulan ini bisa saya tukarkan mobil di sini (habis-habisan lo..
). Terlebih lagi rekan kerja saya yang sudah lebih lama bekerja daripada saya. Mereka punya. Hanya saja mereka merasa tidak perlu menggunakannya setiap hari.
“Tidak perlu!” Rasanya falsafah ini cukup berlaku bagi orang-orang Jepang. Tidak sering saya melihat mereka memiliki atau menggunakan barang/hal yang tidak diperlukan. Membeli apa yang diperlukan saja. Tidak konsumtif.
Satu contoh ekstrim, mentor saya. Di zaman sekarang telepon selular adalah barang yang sangat umum. Rasanya hampir semua orang memiliki. Tapi ternyata, mentor saya ini tidak punya. Waks? Apakah karena gagap teknologi? Tidak mungkin seorang alumnus University of Tokyo (saya masih menyimpan asa terhadap universitas ini, may God lead me) yang 18 tahun terakhir pekerjaannya bergelut di bidang engineering mengidap gagap teknologi. Saya tanya alasannya, dia bilang, “Saya punya fixed phone di rumah. Di kantor ada telepon kantor. Cukup bagi saya. Karena itu saya gak beli hape”. Waks? Benar-benar terkejut saya dibuatnya.
Kadang saya suka membandingkan dengan kondisi Indonesia. Di Indonesia, saya melihat orang sering memiliki/menggunakan sesuatu melebihi apa yang diperlukannya. Padahal negara Indonesia bukanlah negara makmur. “Yang penting gaya man!” seperti kata seorang teman pada saya di Indonesia dulu. Konsumtif? Rasanya iya.
Sedikit menyimpang, tentang sepeda saya. Sebelumnya tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk membeli sepeda di sini. “Gile, jauh-jauh ke Jepang, ujung-ujungya beli sepeda,” sempat tebersit dalam pikiran (begini mungkin pola pikir yang sudah teracuni konsumtivisme). Awalnya saya lebih memilih sepeda motor. Tapi setelah saya renung-renungkan, betul juga kata rekan kerja saya. Saat ini saya ternyata tidak terlalu memerlukan sepeda motor di sini. Kantor dekat, stasiun kereta dekat, pusat perbelanjaan dekat. Ditambah lagi mendengar kabar si Dana sudah punya sepeda di Ome sana. Tidak jadilah saya punya sepeda motor. Penasaran dengan naik sepeda sehari-hari, akhirnya saya putuskan untuk memiliki sepeda. Setelah itu saya hubungi teman saya Dana, “Dan, aku mau berkunjung ke Ome, naik sepeda!”
Cuma sampai sekarang rencana itu belum terwujud karena masalah waktu. Weekend yang sibuk di Jepang dapat menjadi sedemikian sibuk. Kondisi ini diperparah oleh saya yang ketika malas dapat menjadi sedemikian malasnya. Dan karena minggu depan saya akan berlibur ke Indonesia, tidak mungkin mewujudkan rencana tersebut dalam minggu ini. Sekembalinya dari liburan; Dana, nantikan kedatanganku di Ome dengan sepeda anyarku!
namanya juga Indonesia, sasaran empuk negara maju buat jualan
masih pengen ke Todai toh?
mending kuliah sambil kerja aja Son…
wah,, menarik banget. sangat bisa dijadikan contoh.
tapi kalau di jakarta pakai sepeda?? gimana jadinya son? wong naik bis aja sudah keringet.. apalagi naik sepeda.. huehehe..
salam kenal, bang.
kakak ipar saya yang kerja di sana malah beli skuter tuh, tapi hilang diambil orang. Udah 1 bulan ini hilangnya. Heran di Jepang ada maling skuter pula.
Btw, kalo radio FM nanti bakal di”digital”kan juga di Jepang?
waduh om
)
eike ndak bisa klo ga punya hape..
seles ni.. jadi pria panggilan
wakakaka
@Jaya-Taiwan
: Indonesia raya deh Jay! Masih mikir2 Jay.. Liat perkembangan dulu ah.. Aje gile yang mau ke Taiwan. Ni hau ma..??
@Effendi: Wah, kalo Jakarta aku juga nyerah Fen. Jangankan bergerak, duduk diam pun aku keringatan kalo di Jakarta.
@Ridwan: Halo Ridwan, salam kenal juga. Kakakmu tinggal di daerah mana di sini? Katanya sih, kalo soal maling-memaling, biasanya pendatang juga yang melakukan. Benar tidaknya, saya juga gak tau. Soal radio, ke depannya akan digital. Tapi yang pertama akan dibuat all digital adalah broadcast televisi.
@Pomzz: Wah dikunjungi Sai Pampam saya.Apa itu http://yoyoyoyo.web.id/? Wah gawat ini si Pampam, sudah jadi aktivis GLBT di i*b*m kayaknya. Tobat Pam…
kakak saya tinggal di suita-shi, tapi kerjanya di osaka. kerja di perusahaan DIS.
kenapa di Indonesia pada paka mobil ?
contoh kasus Jakarta yang udah macet tapi orang2nya masih menggunakan mobil probadi…
salah satu jawabannya mungkin :
1. Rumahnya jauh. Rata-rata orang yang punya mobil dan kerja di Jakarta rumahnya ada di Bekasi, Tangerang, Bogor… so kalo pake sepeda… ga kebayang deh
2. Transportasi umum dari daerah2 yang jauh itu ke Jakarta masih belum memadai… Teralu berjejal, tidak nyaman, tidak aman, kumuh dst…
oi rikk..iseng2 nge-search namaku sndiri,eh masuk ke blogmu.hehe
kau kok jarang muncul di gereja?
ttg sepeda,sama..aku juga dlu mikirnya gitu,hehe
Jepang emang hebat,tp disisi lain,orang2nya aneh2,bnyk yg kesepian,tertutup n dingin..mknya ga heran kita2 yg di Jepang jd ikut kesepian juga,dingin..
sama juga kita bos,aku jg lagi brusaha biar bs ke todai s2..senpai2 bisa pasti kita bs..klo kontrak kerjamu habis,coba aja lanjut s2,biar satu lab kita,hehe..
ok lah,jgn lp dtg ke PA..
GBU
Yo Wel.. Aku lagi gak ada jadwal jadi petugas proyektor di gereja soalnya, hehehe.. Kemarin ke gereja kok. Tapi minggu depan sepertinya gak ke gereja dulu. Diundang BBQ kantor.
Ya ya, mari berusaha.. Semangat kuliah pak ya.
Sabtu PA ya? Ya, nanti aku datang.
@silverant: yah, bisa dibayangkan.. ke bogor naek sepedah… haha..