Pernah ada yang nanya, susahnya hidup di negara orang itu apa sih? Hmm, apa ya? Ada sih beberapa. Meskipun tidaklah sangat menyusahkan, tetapi kurasa cukup menyulitkan juga. Terutama di masa-masa awal tiba di Jepang.
Yang pertama adalah adanya perbedaan kultur dan kebiasaan. Ada hal yang dulu di Indonesia wajar kalo di dilakukan, di sini menjadi sesuatu yang aneh kalo dijalankan, dan ada hal yang di sini wajar dilakukan, kalau dilakukan di Indonesia adalah sesuatu yang tidak lumrah. Misalnya, dulunya ketika berkenalan dengan seseorang biasanya aku menjabat tangan orang itu. Kalau di sini cukup dengan membungkukkan badan. Coba kalo dipraktikkan di Indonesia..
Contoh berikutnya, kadang muncul perasaan sepi. Ada yang bilang ini merupakan bagian dari yang namanya “culture shock”. Ya namanya juga jauh dari lingkungan dan suasana yang dulu bertahun-tahun ditinggali. Jarang sih sebenarnya. Kalau lagi terjadi, biasanya cari kesibukan saja, main gitar, tidur, atau keluar jogging malam-malam.
Masih ada beberapa kesulitan-kesulitan kecil lainnya. Tapi kalau ditanya, rasanya di antara kesulitan yang ada, yang paling menyulitkan adalah kendala bahasa.
Adalah merupakan kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Meskipun bukan satu-satunya metoda, komunikasi adalah metoda yang paling umum dipakai untuk bersosialisasi. Dan (lagi-lagi) meskipun metoda berkomunikasi itu ada macam-macam, (lagi-lagi) komunikasi verbal yang “ngobrol” itu adalah metoda komunikasi yang paling umum dilakukan manusia.
Sekarang sudah bagamanakah kemampuan berbahasa Jepang saya? Beh, masih jauh dari cukup. Jadi untuk saat ini, jangankan untuk mengungkapkan ide sendiri, untuk memahami apa yang diucapkan orang lain terkadang masih sulit (he..he..). Kalau begini terus bisa susah ini, dalam pekerjaan bisa jadi eksekutor terus dan tidak terlibat sebagai konseptor
.
Memang tidak hanya bahasa Jepang saja yang dipakai di sini. Terkadang juga menggunakan bahasa Inggris. Namun sayangnya sebagian besar orang Jepang enggan bila harus berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Pun demikian, bagiku bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu. Meskipun lebih baik daripada bahasa Jepang, tetaplah tidak se”alamiah” bila aku berbicara menggunakan bahasa Indonesia.
Hmm, mungkin ada yang bertanya, lalu apakah hubungan topik ini dengan orang Singapura (seperti yang tertulis di judul)? Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan ribut-ribut soal perjanjian ekstradisi Indonesia-Singapura yang lagi heboh itu kok
.
Dalam suatu milis yang kuikuti (sebagai anggota pasif
), pernah dibahas tentang polyglots/multilingualism. Dalam diskusi itu dikatakan bahwa Noam Chomsky meng-klaim anak manusia dilahirkan dengan “language acquisition device” di otaknya. Kemampuan bahasa ini adalah “innate” — dengan kata lain “sudah dari sononya.” Manusia lahir dengan prinsip-prinsip aturan bahasa yang general, dengan beberapa parameters yang bisa di”set”–biasanya oleh lingkungan linguistik disekitarnya- -yang realisainya kemudian menjadi adaptasi ke sistim bahasa tertentu (english, spanish, javanese, batakese, etc). Pada anak-anak–biasanya sebelum akilbalik (umur 10-12 tahun)–”parameter setting” ini masih “plastis” bisa dirubah-rubah, dan kemudian bener-bener “set” (mengeras, seperti pada adonan semen) setelah dewasa. Karena itulah “belajar bahasa asing” menjadi jauh lebih sulit pada orang dewasa dibandingkan dengan pada anak-anak.
Lalu apa hubungannya dengan Singapura? Kita tahu bahwa bahasa resmi di Singapura itu adalah bahasa Inggris, Melayu, dan Mandarin. Bahasa Melayunya hanya sempalan saja sih, sebagian besar mereka menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin. Jadi sedari kecil mereka bertumbuh dalam lingkungan bahasa yang seperti itu dan secara alamiah, bahasa Inggris dan bahasa Mandarin menjadi bahasa ibu. Mirip sebenarnya dengan Indonesia yang multilingual. Maka tumbuhlah orang Indonesia dengan kefasihan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, bahasa Indonesia dan bahasa Batak, bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, dan lain-lain.
Nah, beruntungnya orang Singapura adalah (kata beruntung ini minjam dari temanku Dana sewaktu kami berbincang tentang topik ini), bahasa Inggris dan bahasa Mandarin itu adalah bahasa-bahasa yang penting (atau dianggap pentinglah) di dunia.
Bahasa Inggris dari dulu dianggap sebagai bahasa internasional dan paling banyak digunakan dalam pergaulan lintas negara. Bahasa Mandarin? Bagi yang mengikuti geliat perkembangan ekonomi Cina, pasti tahu bahwa Cina akan menjadi “the next big thing” dalam ekonomi dunia. Kemampuan berbahasa Mandarin tentu saja menjadi keuntungan tersendiri bagi seseorang untuk berkompetisi dalam pergaulan global nantinya.
Mungkin ada yang bilang, bahasa Inggris orang Singapura itu aneh. Aksennya tidak bagus. Susah dipahami. Tidak sepenuhnya salah. Aksen itu dipengaruhi lingkungan. Sebagaimana aksen England berbeda dengan aksen Amerika. Kalau sudah terbiasa, masalah aksen ini tidaklah terlalu signifikan. Awalnya aku juga kesulitan memahami kalau teman-teman di sini yang dari Singapura berbicara. Tapi lambat laun, jadi terbiasa. Secara “content” tidak ada bedanya dengan American English yang akrab di telinga orang Indonesia.
Sebenarnya kemampuan orang Indonesia dalam ber-multilingual tidak kalah dari orang Singapura. Saya misalnya (ceile…) bisa bahasa Indonesia, bahasa Batak, bahasa Minang, dan bahasa Sunda (beberapa kata saja sih sebenarnya). Si Dana, yang kutahu dia itu selain bahasa Indonesia, adalah master dalam bahasa Jawa (jadi ingat jargon si Dana, Jawalah Indonesia!). Cuma ya itu, bahasa-bahasa kita itu tidak dianggap penting di pergaulan dunia, he..he… sedihnya..
Lo, kan sekarang tinggal di Jepang, pakai bahasa Jepang? Apa hubungannya? Masih ada. Dalam tulisan, bahasa Jepang menggunakan karakter Kanji yang sejarahnya dulu diimpor orang Jepang dari orang Cina. Yup betul, ragam tulisan bahasa Mandarin juga menggunakan karakter Kanji. Meskipun ada beberapa perbedaan, teman-teman di sini yang dari Singapura lebih familiar dengan Kanji daripada aku.
Mungkin suatu saat, ketika Indonesia bisa tumbuh sehat menjadi “one of the big thing”dalam perekonomian dunia, bahasa-bahasa kita itu mulai dilirik dan diperhitungkan dalam pergaulan dunia. Semoga..
p.s. : Si Dana hari ini balik dari cuti di Indonesia, bawa rendang pesananku. Asik… Cuma itu, misi khusus dia pulang buat cari istri sepertinya gagal, he..he.. Nasib sepi sendiri di perantauan Dan yak!
misi dana kan baru misi awal . hehehe.
kaw kapan son ? :p
makanya, bikin Indonesia jadi “the next big thing” juga dong..
biar dunia internasional yg belajar bahasa Indonesia..
Buat Adhy: Wah, karena si Dana udah memulai duluan, saya mah nunggu si Dana selesai dulu ajalah.. Tidak baik mendahului orang tua (haha, bisa marah si Dana ini, dibilangin tua) Kau kapan Dhy? (hehehe…)
Buat Jaya: Mari Jay, mari.. Tapi kita mau jualan apa ya sama negara lain? Jualan surat utang mungkin yak?:D
oalah cok cok….
lama tak bersua
gimana kabar nya Aya Ueto? hehehe..
btw, kenapa ga cari jodoh di jepun aja… perbaikan keturunan… :p
Aya Ueto teh aya naon?
)
Menghina si Sigit ini, jelas2 high quality gini disuruh perbaiki keturunan. Ha..ha..
(Siapa bilang saya sedang tidak melakukan hal itu Git?
tess…
sehat kau kan???
beuh.. kata siapa gagal?? ah tak betul kutengok si ucok ini..
hanya di-redefinisi ulang aja misi ku ini.. dievaluasi kembali..
ya juga sih.. aku juga selama ini khawatirnya, skill konseptor dan komunikasi tim jadi nda terlalu berkembang,gara2 masalah komunikasi ini… Lebih seneng kerja sendiri.
pernah di tim (di sebuah training mirip EEA elektro), susah banget convince anggota lainnya..Pas udah jalan, barulah mereka nyadar. Sebel banget deh..
maa ii ka..jikan kakaru yo..mou chotto gaman shite moraeba ii to omou (na noni, kangaenaoshi mo hitsuyou da yo?)
Wahh.. Kalo aku beruntung jadi Orang Indonesia, cok.. Kau bisa malas2an cm bs di Indo,kan?? Dimana lagi tempat yg nyaman selain Indonesia.. Bisa puas2an aku tidur2an di kost(klo libur)..(baca:makin mokmoklaaa aku..hehe)
Smangatlaa kau dsana.. Kembangkanlah smangat cinta Indonesia dsana..
Woy gimana kabarmu? Di jepang mereka emang dah pake DVB & DAB ya aku TA ttg OFDM yg dipake di DVB & DAB.
OK lah kapan kw pulang? Ke bandung lah son
Ah si Nando ini tak betul kutengok. Isi tulisan apa, komentarnya apa. Salah tempat euy. Tentang tipi, di atas, bukan yang ini.
Soal DVB & DAB, aku gak tau. Sekarang gak ngurusin transmitter saya. Saya di encoder.
Horas bah,,,
Benar lah yang kau ceritakan cok…
Lonely is the most worse things..
tetap semangat ma ateh di perantauan….
mencari sesuap nasi se-kontainer berlian (kalo mungkin…)
Berlian ndak bisa dimakan Jhon. Makanya, aku nyari sekontainer dorayaki ini. Lumayan buat sarapan 3 tahun..