A Journey in a Lifetime

Just another story..

Hajar bleh..!!

Hajar bleh..!!

June 16, 2008 Posted by ericsonfp | Random Notes | | 7 Comments

Previlige Sebagai Seorang Indonesia

Tadi aku dikejutkan oleh manajer. “Hari Minggu kita harus ke Dallas,” katanya. Buset, keputusan yang tiba-tiba. Memang sih sebelumnya isu ini sudah pernah dibicarakan, melihat perkembangan masalah yang ada, harus ada perwakilan perusahaan yang hadir di Dallas, Texas. Cuma ya saya heran, keputusannya cuma 6 hari sebelum hari H.

Dengan masih bertanya-tanya di hati, aku menghadiri briefing perkembangan masalah dan detail rencana kerja di sana. Kemungkinan bahwa jika diperlukan harus tinggal di sana sampai September membuatku semakin bertanya-tanya. Kali ini bertanya-tanya tentang rencana orangtua dan adikku yang akan mengunjungi Jepang di bulan Juli nanti. Buset, berantakan semua dah..

Selesai briefing, si manajer basa-basi mengeluarkan pertanyaan yang membuatku tercengang-cengang, “Indonesia gak perlu visa kan kalo ke US?” Wadow, gak perlu darimana? “Ya tentu saja perlu,” sahutku. Akhirnya si manajer yang tercengang-cengang.

Aku pun disuruh mencari tahu. Selidik punya selidik, ternyata Jepang termasuk negara yang memenuhi kualifikasi untuk Visa Waiver Program. Mereka bisa berkunjung ke US tanpa visa apabila kunjungannya tidak melebihi 90 hari. Selain Jepang, negara-negara yang qualified adalah : Andorra, Australia, Austria, Belgium, Brunei, Denmark, Finland, France, Germany, Iceland, Ireland, Italy, Liechtenstein, Luxembourg, Monaco, the Netherlands, New Zealand, Norway, Portugal, San Marino, Singapore, Slovenia, Spain, Sweden, Switzerland, and the United Kingdom. Dan sesuai harapan ( :D ) saya, Indonesia tidak termasuk.

Aku pikir-pikir, enak sekali jadi warga negara-negara di atas, punya previlige seperti itu. Dan jadi bertanya-tanya, kalo sebagai warga negara Indonesia, previlige apa sih yang kita punya…? (Garuk-garuk kepala, sambil pusing mikir urusan visa yang kelihatannya bakal memakan waktu yang tidak singkat…)

June 2, 2008 Posted by ericsonfp | Indonesia | | 5 Comments

10 Signs of “Green” Engineer

On January 2007, I attended a training lectured by a general manager. One of his material was about signs of inexperienced engineer. Because the training was given in Japanase, and at that time my Japanase was still poor (even now :D), I didn’t really understand the content.

Tonight I reread the training’s handout and I think probably I gained better understanding of the material :D . Finally, there is sign of improvement in my Japanese :D. So here it is:

Signs of inexperienced engineer/ヤブ技術者の定義

1. Doesn’t do continuous study. Does job based on previous experiences only. (勉強していない。過去の経験のみで技術開発をしている。).

2.Doesn’t have problem analysis capability. Cannot grasp the “point”. (問題解析能力がない。問題点を理解できない。).

3. Cannot assist the growth of other unskilled engineer. (苦手技術者を育てることができない。).

4. Doesn’t pay good attention on product. Doesn’t pay good attention on field condition. (ものをよく見ない。現場をよく見ない。).

5. Compromise easily. (すぐ妥協する。).

6. Cannot determine whether development requirement for a technology is high or low. (技術開発要素が高いか、低いか判断できない。).

7. Creates product based on specification without having interest in why it must be based on the specification. (仕様どうりのものをつくろうとする。).

8. Doesn’t show effort to get outside information.(外の情報を得ようとする努力をしない。).

9. Doesn’t listen to other people’s opinion. Not cooperative. (人の意見を聞かない。協調性がない。)

10. Always make up excuses.(二言目には、できない理由をならべる。).

At the end of the training, he mentioned that it doesn’t require all the 10 signs, if you have just 3 of them, then you are still “green”.

So are you green?

P.S.: There is possibility that I have made wrong translation of the Japanese. Any correction is most welcome.

May 18, 2008 Posted by ericsonfp | Uncategorized | | 7 Comments

No Single Formula For Succesful Innovation

Kemarin saya membaca sebuah artikel tentang hasil survei negara-negara paling inovatif di dunia yang diselenggarakan oleh lembaga Economist Intelligence Unit. Setelah mencari tahu lebih jauh, saya mendapati bahwa survei ini mendefinisikan inovasi sebagai “the application of knowledge in a novel way, primarily for economic benefit“. Yang dijadikan sebagai parameter utama adalah jumlah paten yang dihasilkan suatu negara per satu juta penduduk negara tersebut dalam rentang 4 tahun (2004-2006). Hasil survei menunjukkan Jepang sebagai negara paling inovatif di dunia, diikuti oleh Swiss dan Amerika Serikat di posisi kedua dan ketiga.

Saya sedikit terkejut dengan keberadaan Jepang sebagai pemuncak hasil survei tersebut. Tadinya saya mengharapkan Amerika Serikat atau negara Eropa (seperti Jerman, Perancis, dan lain-lain) yang menjadi pemenang.

Kenapa saya berpikiran demikian? Selama ini saya berpendapat ada 2 hal utama yang mendukung terciptanya inovasi: teknologi dan kreativitas. Penguasaan teknologi didukung oleh keberadaan perguruan tinggi/institusi riset dan korporasi yang bergerak di bidang teknologi. Sementara kreatifitas? Sulit untuk dijabarkan memang. Tapi rasanya lingkungan yang diverse, memiliki keberagaman, sangat mendukung terciptanya kreatifitas. Interaksi antarkultur yang beragam, pola pikir yang berbeda-beda rasanya akan mendorong timbulnya ide-ide kreatif yang out of the box.

Mari coba bandingkan dua negara saja, Amerika Serikat dan Jepang. Amerika Serikat memiliki keduanya. Amerika Serikat merupakan rumah bagi beberapa perguruan tinggi/intitusi riset terbaik di dunia. Siapa yang tidak kenal MIT, Stanford University, Harvard University, Caltech, Bell Labs, dan lain-lain? Mengenai korporasi yang bergerak di bidang teknologi, rasanya akan terjawab dengan hanya menyebut Silicon Valley yang sering dituduh jadi biang kerok fenomena brain drain.

Amerika juga memiliki lingkungan yang kaya akan keberagaman. Saya belum pernah ke Amerika memang (mudah-mudahan suatu saat bisa ke sana sih :D), jadi belum pernah mengalami secara langsung. Tapi dari yang saya lihat di televisi, yang saya baca di media cetak, Amerika adalah negara yang sangat multietnis. Dampaknya, Amerika Serikat merupakan negara yang sangat multikultural. Masyarakat Amerika juga memiliki kebebasan yang luas di bidang agama dan ideologi. Semuanya ini menciptakan lingkungan yang kaya akan keberagaman. Tidak heran rasanya kalau ide-ide kreatif bisa bermunculan dari lingkungan semacam ini.

Jepang punya teknologi. Yang lebih awam di telinga umum mungkin produk-produk dari korporasi-korporasi raksasa seperti Toshiba, Sony, Hitachi, Sharp, Toyota, dan lain sebagainya. Jepang juga memiliki perguruan-perguruan tinggi yang disegani dalam kancah teknologi dunia, seperti University of Tokyo, Tokyo Institute of Technology, Tohoku University, Osaka University, dan lain-lain. Jadi, Jepang memiliki kualifikasi dalam hal penguasaaan teknologi. Akan tetapi, bagaimana dengan diversity?

Sebelum menginjakkan kaki di negara ini, saya tidak memiliki minat khusus terhadap Jepang. Baru 1,5 tahun inilah saya mau tak mau jadi punya perhatian lebih terhadap negara ini (tuntutan adaptasi sih :D). Setelah berinteraksi selama 1,5 tahun, bisa saya katakan bahwa Jepang adalah lingkungan yang (masih) monokultural.

Dari sekitar 127 juta penduduk Jepang, hanya 1,22 % yang merupakan orang asing dengan status permanent resident. Penduduk Jepang juga monoetnis. Memang, ada suku minoritas seperti Burakumin, Ainu, dan orang Ryukyuan, namun rasio antara etnis Jepang terhadap etnis minoritas adalah 99.4%.

Salah satu pepatah Jepang yang populer adalah 出る釘は打たれる(deru kugi wa utareru). Artinya, sticking out nail be hammered, paku yang menonjol akan dipalu. Dan dalam bahasa Jepang, kata “berbeda/different” dan kata “salah/wrong” merupakan kata yang sama, 違う(chigau). Sedikit banyak menggambarkan bagaimana orang Jepang tidak terlalu menyukai sesuatu yang “tidak seperti biasanya”.

Orang Jepang menyenangi conformity. They go by the book, they go by the rules. Hal ini juga saya amati pada rekan-rekan kerja saya. Mereka bukan orang-orang yang sangat kreatif. It’s all in the book, walaupun saya sedikitpun tidak meragukan kualitas kerja mereka.

Kenyataan ini membuat saya berpikir dan bertanya-tanya, apakah inovasi itu sesuatu yang bisa dihasilkan secara sistematis? Tidak diperlukankah kreativitas yang spontan? Apakah pemahaman saya selama ini tentang inovasi salah?

Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya saya tidak sepenuhnya salah. Perusahaan tempat saya bekerja, yang memiliki slogan Leading Innovation, sejak tahun 2006 kemarin memulai program yang disebut Global Recruitment. Saya salah seorang produk pertama program ini. Melalui program ini, mereka merekrut orang asing lulusan perguruan tinggi di luar Jepang untuk ditempatkan di Jepang. Mungkin mereka merasa inovasi yang dihasilkan secara sistematis (kalau memang bisa dihasilkan secara demikian) tidak cukup lagi. Maka dilakukanlah diversifikasi, penempatan orang-orang asing dengan latar belakang budaya, pemikiran yang berbeda.

Apakah teori saya tentang inovasi ini benar? Ah, tiba-tiba saya merasa sok tahu. Tapi fenomena ini menunjukkan, (sejauh ini) no single formula for successful innovation.

May 5, 2008 Posted by ericsonfp | Japan, Technology, Science and Engineering | | 4 Comments